Asma Nadia
Asma Nadia
Tumor, Sastra, dan Eksistensi
"SAYA belum berhenti menulis karena semakin banyak yang ingin kutulis. Saya menulis sebagai ruang untuk membangkitkan eksistensiku. Eksistensiku untuk mengubah dunia." - Asma Nadia -
MATAHARI di hari Minggu (28/2) itu sangat terik menyelimuti kawasan Jln. Margonda Raya, Depok, Jawa Barat. Rasa penat bertambah dengan klakson kendaraan yang sambar-menyambar. Dari arah jalan, tiba-tiba muncul seorang perempuan yang diikuti empat orang anak kecil dan laki-laki dewasa. "Aduh maaf Mas, saya telat ya. Tadi muter kendaraannya kejauhan," ujar perempuan yang dikenal dengan nama Asma Nadia ini.
Terpikir, awalnya Asma lari terburu-buru lantaran telat dengan jadwal wawancara yang telah disepakati. Ternyata itu bukan satu-satunya sebab. Rombongan Asma yang terdiri dari anak-anaknya, keponakan, dan suami itu, yang buru-buru memasuki gedung toko buku salah yang terbesar di Indonesia, lantaran Adam, putra bungsunya, mengikuti lomba baca puisi cinta.
"Dengan seperti ini saya ingin merangsang mereka untuk suka menulis," katanya sambil berjalan terburu-buru melewati tumpukan-tumpukan buku di lantai dua pertokoan tersebut.
Ya, Asma berusaha mengajak anak-anaknya untuk menulis, mungkin seperti dirinya yang sudah menulis 30 buku dalam bentuk cerita pendek, novel, dan karya sastra lainnya.
Asma adalah salah satu pendiri Forum Lingkar Pena (FLP), bersama Helvi Tiana Rosa (kakaknya), dan beberapa teman lainnya. Kini, FLP memiliki 5.000 anggota yang tersebar di 100 kota di 30 provinsi Indonesia. FLP baru saja menggelar milad 10 tahunnya di Jakarta, Jumat (23/2).
Asma dan masa kecil
Asma Nadia adalah nama pena penulis kelahiran Jakarta 26 Maret 1972 ini. Nama lahirnya, Asmarani Rosalba, putri kedua dari pasangan Amin Usman dan Maria Eri Susianti. "Kami memberinya nama itu agar dia seperti mawar putih yang selalu membawa keharuman untuk siapa pun," ujar sang bunda.
Rani --begitu panggil Asma waktu kecil-- dari balik bilik mungilnya, diiringi raungan kereta yang lewat persis di depan rumah di Gunung Sahari, sudah asyik dengan dunia karang-mengarang. Salah satunya sebuah puisi lahir saat usianya 6 tahun yang ditujukan untuk kakaknya, Helvi Tiana Rosa. Petikannya:
Kakakku manis sekali,
Aku sayang padanya
Ia pun sayang padaku,
kakakku sayang
Hingga saat usianya tujuh tahun, sebuah kenyataan mesti diterima. Kepalanya terbentur ujung besi. Berdarah dan muntah-muntah. "Saya kena gegar otak," kata Rani, mengulangi vonis dokter yang memeriksanya.
Tidak cuma gegar otak, hasil pemeriksaan umum terhadap tubuhnya, diketahui ada kelainan otak bagian belakang, paru-paru kotor, jantung bermasalah, 13 giginya rusak membusuk dan tak beraturan. Dan, lima benjolan kecil yang disebut tumor!
Bertahun-tahun Rani bolak-balik ke rumah sakit. Gonta-ganti dokter yang menyuruhnya meminum macam-macam obat. Akan tetapi, Rani tidak mengeluh. Ia terus menulis apa pun meski kepalanya sering pusing.
"Saya menunggu dipanggil dokter sambil membaca. Bertahun-tahun kemudian, saya tahu mami sering melewatkan makan siang supaya saya bisa beli buku. Luar biasa, kan?" kenangnya. "Alhamdulillah lewat dunia tulisan, mudah-mudahan saya tidak mengecewakan (mami)," katanya lagi.
Vonis bermacam penyakit tidak membuatnya lemah. Ia terus meraih ranking, masuk sekolah favorit SMU 1 Budi Utomo dan berhak ikut penerimaan PMDK di IPB. Akan tetapi, kuliah di jurusan mekanisasi pertanian itu tidak selesai karena tumor. "Sebagian sudah diangkat. Sekarang masih ada yang jinak. Nanti sajalah diangkatnya," katanya sembari tersenyum.
Asma dan cerita remaja
Sejak memasuki kuliah tahun pertama, Rani atau Asma sudah mengirimkan tulisan ke majalah Islam. Tahun 1994 dan 1995, cerita pendek "Imut" dan "Koran Gondrong" menjadi juara 1 lomba Menulis Cerita Pendek Islami tingkat nasional yang diadakan majalah Annida.
Prestasinya terus melonjak. Novel "Derai Sunyi" (Mizan, 2002) menjadi novel terpuji tingkat nasional versi Forum Lingkar Pena dan Majelis Sastra Asia Tenggara. Tahun 2003, Penerbit Mizan juga memilihnya sebagai Penulis Remaja Terbaik Mizan. Efeknya, ia sering mendapat kesempatan memberi workshop penulisan di Malaysia sampai ke Mesir. Dan tahun 2006, selama enam bulan ia berada di Korea Selatan untuk workshop penulisan.
Dalam peta penulis perempuan, ia enggan terhadap pengungkapan seksualitas. Menurutnya, sudah terlalu banyak buku-buku yang tidak sesuai dengan identitas ketimuran. Ia berpendapat, sastra yang estetik tidak perlu ada unsur-unsur erotis.
Ia menyebut dirinya sebagai pengarang fiksi islami. Identitas itu lahir di tengah booming-nya genre fiksi sekuler dan fiksi seksual. Frase itu ia definisikan sebagai cara menyampaikan rasa Islam. Ia tidak mendefiniskannya sebagai fiksi yang menumpuk simbol agama. Misalnya, menggambarkan semua tokoh dengan jilbab atau laki-laki dengan jenggot dan serban.
Saat menulis "Aisyah Putri" tahun 2000, ia masih melekatkan simbol-simbol itu dalam cerita. Tapi lambat laun, ia hanya menyisakan satu atau dua tokoh saja yang seperti itu. "Saya ingin menyelami semua ruang dan kalangan. Seperti air laut, tidak perlu dipasangi papan reklame yang menyebut rasanya asin. Cukup dirasakan saja," katanya.
Fiksi islaminya merupakan ungkapan untuk mencapai tujuan luhur. Jika ada jalinan cinta, cinta hadir dalam koridor etika dan moral islami. Seperti karya Asma, di mana ia angkat fenomena keseharian lalu ia putar balik pada koridor tadi.
"Saya kira setiap pengarang punya keberpihakan. Bahkan, jika dia netral, itulah keberpihakannya. Secara pribadi, saya berpendapat sudah seharusnya sastra menyuarakan sesuatu: kebaikan, kebenaran, keadilan dll. Sastra tidak hanya harus mengangkat realita sekaligus memanusiakan pembacanya," katanya.
Misal, pada novel "101 Dating", Asma membuka dengan fenomena kehidupan remaja berpacaran. Klimaksnya, beberapa remaja putri mengalami kehamilan. Melalui para tokoh utamanya, Kas dan Jo, fenomena itu cepat ia simpulkan.
Peristiwa kehamilan langsung menyeruak tanpa ada kesempatan para tokoh untuk menceritakan alasan terjadi. Tokoh Kas --laki-laki gaul yang jatuh cinta dengan perempuan Muslim Jo-- lantas buru-buru dibuat pilihan untuk meninggalkan Jo. Demi menghindari kehamilan.
"Misinya, saya hanya ingin remaja melihat betul realitas dunia pacaran...terutama bagi remaja putri yang sering menjadi korban dan dirugikan dalam pacaran yang sering kebablasan. Saya hanya ingin remaja berpikir logis dalam menghitung untung rugi pacaran," ujarnya.
Beberapa karya Asma memang lebih dekat dengan remaja. Dengan gaya populer, plot yang sederhana dan alur cerita yang progresif, ia menyelami dunia remaja. "Saya merasa lebih mudah berbicara tentang remaja, dengan gaya bahasa remaja, buat saya lebih mudah," jelasnya.
Untuk melakukan hal itu, Asma terjun langsung melihat perkembangan remaja saat ini. Ia membuka blog, mendaftar di friendster, sampai mencari aktor dan grup band yang digandrungi lewat majalah gaul atau yang bersegmen Islam. "Bahkan, untuk menceritakan kisah pelacuran, saya pun masuk ke sudut-sudut kompleks pelacuran di Jakarta," ujarnya terkekeh.
Saat penganugerahan Adikarya Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) tahun 2005, Asma disebut punya perbedaan dengan penulis remaja lainnya. Setiap tulisan memiliki pesan yang kuat pada remaja. Tidak terjebak verbalitas dan menggurui. "Waktu itu Nina Armando pernah mengatakan kepada saya seperti itu. Wallahualam," ujarnya.
Akan tetapi untuk menggambarkan sosok Asma di dunia penulisan, tidak cukup hanya membaca cerita fiksi Islam remaja. Setidaknya tiga cerita pendek: "Koran", "Perempuan Biru", dan "Cut". Dan, satu novel berjudul "Derai Sunyi" dapat membiaskan predikat penulis remaja.
Dalam cerita "Perempuan Biru" ia mengkritik perilaku perselingkuhan laki-laki.Ia tekankan bahwa laki-laki memang tidak pernah puas terhadap satu perempuan. Akibatnya, perempuan tersudutkan.
Lalu, pada cerita "Derai Sunyi", ia terketuk mengangkat harkat dan martabat seorang perempuan pembantu rumah tangga. Lagi-lagi ia mempertanyakan keadilan bagi kalangan perempuan. "Kisahnya saya ambil ketika menonton berita adanya pembantu perempuan yang disiksa," kata CEO di Lingkar Pena Publishing House ini.
Akan tetapi, ketika pembaca dihadirkan kisah Cut Rani, tidak ditemukan kritik sebuah hubungan suami-istri atau penyiksaan terhadap perempuan. Cerita itu mengisahkan sekeluarga yang tercerai berai karena tsunami. Dan sang suami, tak putus asa mencari istrinya, "Cut Rani".
Lantas seperti apakah penulis bernama Asma Nadia? "Ketika banyak hal yang mesti saya tulis, saya akan menulisnya. Dalam penulisan itu saya berpihak pada keadilan," katanya. "Tapi saya bukan seorang feminis."
Sebuah hal yang unik pada diri Asma adalah ketika ia bukan sekadar penulis. Ia juga seorang konsultan psikologis. Ia menerima banyak curhat dari pembacanya, lalu ia balas semua curhat itu. Banyak orang yang heran, tapi itulah Asma. Ia ingin semua orang bahagia. Oleh karena itu, ia menciptakan site-nya sendiri bernama http://www.anadia.multiply.com/.
Berbicara eksistensinya, CEO di Lingkar Pena Publishing House ini bilang, "Selama saya masih diberi kemampuan oleh Allah, insya Allah saya akan terus menulis. Dan, selama itu pula saya ingin semua orang juga bisa menulis. Yang penting modalnya semangat!". ***
agus rakasiwikampus_pr@yahoo.com